Blog EntrySeptember KelabuApr 23, '08 12:42 AM
for everyone
Kalau saja aku tahu bahwa umur pejumpaan kita takkan lama, saat itu tentu aku akan memilih untuk mendekapnya sepanjang malam. Mencurahkan seluruh kasih sayangku, membiarkannya menysu sepanjang malam untuk bekalnya menuju ke surga....
Selamat jalan anakku, semoga apa yang terjadi padamu dapat menjadi hikmah kebaikan bagi semua...

10 September 2007, tepat pkul 07.20, melalui operasi caesar, lahirlah putra yang sudah sangat kami tunggu-tunggu. Delapan tahun sudah kami menunggu datang seorang bayi mungil lagi dalam keluarga kami. Dan bukan hanya aku dan suamiku yang sangat antusias, namun juga putri kami. Begitu bangganya dia, berulangkali diciumnya pipi sang adik, berulangkali disentuhnya kepala adiknya, dan tak henti-henti bibirnya berceloteh menggambarkan kegembiraannya pada seluruh kerabat yang hadir. Bahkan putriku juga yang dengan penuh semangat berulangkali meminta pada perawat agar adiknya  dibawa ke kamar kami.

Saat itu aku sempat berusaha menyusui putraku sebanyak 3 kali. Meskipun aku sempat kecewa, aku merasa tak puas. Operasi caesar membuatku tak dapat segera memeluk bayiku, begitu dilahirkan, pemasangan kateter juga membuatku tak dapat leluasa memeluk tubuh si kecil saat disusui. Suara tangisnya yang kencang membuatku kuatir, apakah karena jarang kehamilan yang terlalu lama, atau karena usiaku yang tak muda lagi , maka air susuku tak kunjung keluar?

Panik??? jelas, dan aku menurut ketika disarankan untuk memberi susu tambahan. Suara tangis si kecil yang begitu kencang membuatku merasa trenyuh. Aduh kenapa ini, maafkan mama nak... mama panik kenapa air susu mama tak keluar juga? Malam itu putriku tak mau pulang, ia ingin menunggu adiknya semalaman. Namun aku menyuruhnya pulang. Kupikir toh semuanya baik-baik saja. Aku sehat begitu juga adiknya tak ada yang perlu dikuatirkan. Aku justru kuatir kalau putriku sakit karena kecapekan.

05.30 pagi, selesai aku dibasuh. Kudengar seorang perawat membawa bayi pasien yang sekamar denganku. Akupun sempat memminta bayiku. Aku kangen. Sebentar lagi kateterku dilepas... maka aku bisa menggendongnya dengan leluasa. Tapi sayang permintaaanku ditolak. Menurut penjelasan sang perawat, bayi di rumah sakit itu diserahkan sesuai dengan jadwal tangisnuya. Akus empat bingung. Tapi aku sendirian. Kateter masih terpasang. Siapa yang bisa menengok putraku?

Ringkas cerita pukul setengah sepuluh suamiku datang setelah ditelp oleh pihak RS. Katanya bayiku sakit sesak napas dan harus segera dioperasi, karena kalu tidak akan fatal akibatnya. Hatiku berdetak. Anakku baru berusia 1 hari. Dia belum sempat kupeluk, tapi harus menjalani operasi? Saat itu semua bagaikan makan buah simalakama. Atas keputusan bersama, dan kebaikan si kecil, maka putra kami menjalani si kecil.

Karena kondisinya dinyatakan baik, maka suamikupun pulang  menjemput putri kami. Ipar dan mertuaku datang menemani. Aku sempat terkejut sewaktu iparku mengatakan bahwa bayi kami yang baru dioperasi tidak berada di ruang ICU. Apakah rumah sakit sebesar ini tidak memiliki Icu? Itu yang ada dalam benakku. Tertatih-tatih karena kateter baru dilepas, kujenguk si kecil. Tuhan... ibu mana yang tidak mengurut dada, Ingin rasanya saat itu aku memeluk tubuh mungilnya, mencium pipinya dan menyusuinya. Tapi kami dipisahkan oleh peralatan kedokteran.

Sore harinya lagi, lagi kabar menyesakkan datang. Putraku dinyatakan harus dirujuk ke RS lain, karena rumah sakit dimana dia dibedah tidak memiliki peralatan yang sangat diperlukan untuk tindakan lebih lanjut. Saat itu juga rasanya langit runtuh di kepalaku, 8 tahun aku menanti, semua bagai mimpi buruk Sesaat yang lalu aku begitu bangga, keluarga kami begitu bahagia, namun sekarang? Dan satu hal yang aku baru tahu di kemudian hari bahwa rumah sakit yang besar itu ternyata tidak memiliki ICU untuk anak.

Dan keesokan harinya, tak lama setelah lohor, putra yang kami tunggu selama ini menghembuskan napasnya. Selamat jalan putraku...
Mama selalu merindukanmu...






mizaby wrote on Apr 23
salam kenal mbak, semoga mbak keluarga diberi ketabahan ya..Yang pasti jagoannya mbak lagi senang di "sana"...amin..
t3k0 wrote on Apr 23
semoga seluruh keluarga besar nte diberikan kesabaran & tetap tawakal, turut b'duka yg teramat dalam.......
preethah wrote on Apr 23
mba,..yang sabar yach,..saya yakin, walaupun mba cuma ketemu sikecil hanya sebentar, tapi dia tau, klo mama papa and mba nya sayang sekali sama dia,..n i think he is happy in heaven right now, knowing all of you love him sooo much ^__^

yangsa bar yach mba ;-))
rikad wrote on Apr 27
Thanks ya ntuk smua yang kasih dukungan. Yang jelas sih nggak gampang ngadepinnya. Paling sulit kalau si kakak, ribut minta adik, sementara umurku dan suami udah ga bisa dibilang muda lagi.
Di sisi lain mendidik anak tunggal juga suatu masalah sendiri. Mau dikerasin anak cuma 1 mau di lembekin takut jadi anak yang manja.
menurntik wrote on May 28
Ikut berduka ya, Mbak. Memang tidak mudah menghadapinya. Apalagi, selain harus menghadapi perasaan kita sendiri, kita juga harus menjaga perasaan si kakak. Kita pasti tidak mau sang kakak sedihnya berlarut-larut.
Saya juga mengalaminya. Setelah 3 kali keguguran, akhirnya berhasil hamil sampai waktunya melahirkan. Tapi mendadak jantung janin berhenti berdetak. Dan saya harus melahirkan bayi yang sudah meninggal. Secara normal. Saya harus kuat, karena ternyata si sulung juga ikut sedih. Usianya waktu itu 5,5 tahun.
Memang takes time untuk menyembuhkan ya.
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help